Indeks Harga
Saham Gabungan (disingkat IHSG, dalam Bahasa Inggris disebut juga Jakarta
Composite Index, JCI, atau JSX Composite) merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Diperkenalkan pertama kali pada
tanggal 1 April 1983, sebagai
indikator pergerakan harga saham di BEJ, Indeks ini mencakup pergerakan harga
seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di BEI. Hari Dasar untuk
perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982. Pada tanggal
tersebut, Indeks ditetapkan dengan Nilai Dasar 100 dan saham tercatat pada saat
itu berjumlah 13 saham.
Posisi intraday
tertinggi yang pernah dicapai IHSG adalah 5.251,296 poin yang tercatat pada
tanggal 21 Mei 2013 . Sementara
posisi penutupan tertinggi yang pernah dicapai adalah 5.214,976 pada tanggal 20
Mei 2013.
Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indeks yang mengukur harga saham yang dijual
di bursa.
Secara
garis besar merupakan suatu alat ukur/indikator dari pergerakkan harga-harga
saham yang ditransaksikan di suatu bursa efek dalam kurun waktu tertentu.
Bagi
investor, IHSG dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengambil keputusan
berinvestasi namun ini tidak mutlak harus diikuti karena dalam memutuskan untuk
membeli atau menjual saham hendaknya berdasarkan informasi yang tepat dan
matang, tingkat pertumbuhan yang diharapkan dan jangka waktu yang ditetapkan.
IHSG merupakan salah satu indikator penting
bagi perekonomian suatu Negara. Naik turunnya IHSG menunjukkan naik turunnya
minat investasi, IHSG bisa menunjukkan kemampuan lingkungan ekonomi dalam
menarik minat investor.
Secara
sederhana naiknya IHSG menggambarkan bahwa lingkungan ekonomi tampak semakin
menarik bagi investor.
Komponen
Indeks Harga Saham Gabungan
Inilah
komponen komponennya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Ada 9 sektor yaitu Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri, Industri Barang
Konsumsi,
Properti, Infrastruktur, Keuangan dan Perdagangan dan sektor
khusus, seperti KOMPAS
100, JII, LQ45, BISNIS 27, PEFINDO 25 dan SRI KEHATI. Semua emiten yang
tercatat di BEI juga tercatat tergantung dengan tipe usahanya dan likuidasinya
sendiri.
Komponen-Komponen
Pembentuk IHSG Serta Faktor-Faktor Apa Saja yang Membuat IHSG Berubah-Ubah.
faktor-faktor
apa saja yang membuat level IHSG bergerak naik atau turun. Pertama tentunya
harga saham. Namun tidak hanya itu. Kenaikan atau penurunan tajam harga satu
saham memang berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Namun seberapa besar
kenaikan itu mempengaruhi IHSG tergantung pada bobot saham tersebut.
Jadi
sederhananya, kenaikan atau penurunan IHSG sangat bergantung pada pergerakan
saham-saham berkapitalisasi besar. Berangkat dari sinilah kemudian muncul
beberapa saham yang disebutsebut sebagai motor penggerak IHSG.
Sebut
saja saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Saham ini memiliki saham
tercatat mencapai 20,159 miliar saham. Dengan harga saat ini sebesar Rp 8.700,
maka kapitalisasi pasar TLKM mencapai Rp 175,383 triliun.
Nilai
itu mencapai 10% dari total nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI yang
masuk dalam penghitungan IHSG. Kapitalisasi pasar BEI saat ini sekitar Rp 1.700
triliun. Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu, kenaikan atau penurunan harga
sebesar Rp 50 poin saja akan memberikan pengaruh pada level IHSG.
Saham
TLKM memang tercatat sebagai saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI. Lain
halnya dengan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Saham BNBR yang
tercatat di BEI mencapai 93,721 miliar saham, jauh lebih besar dari TLKM.
Akan
tetapi, harga saham BNBR saat ini sebesar Rp 127 yang berarti nilai
kapitalisasi pasar BNBR sebesar Rp 11,902 triliun. Angka tersebut tidak sampai
1% dari kapitalisasi pasar BEI.
Jadi,
meskipun BNBR mengalami kenaikan harga atau penurunan harga sebesar 35% pun
tidak akan memberi pengaruh besar terhadap perubahan level IHSG. Lain halnya
jkalau suatu saat harga saham BNBR mencapai Rp 5.000, dapat dipastikan kenaikan
atau penurunan tipis harga saham BNBR akan memberi pengaruh besar pada level
IHSG.
Oleh
sebab itu, jika level IHSG naik tajam, dapat dipastikan hal itu didorong oleh
kenaikan hargaharga saham berkapitalisasi besar atau yang lebih dikenal sebagai
Huge Cap. Jadi wajar saja, kalau saham TLKM naik tajam, level IHSG pun akan
terkerek naik secara tajam pula.
Kelemahan
penghitungan ini adalah karena rumus ini memasukkan sahamsaham yang kurang
aktif diperdagangkan serta memasukkan faktor bobot atau jumlah saham secara
keseluruhan dalam penghitungannya.
Contohnya,
saham TLKM hanya ditransaksikan sebanyak 1 lot dan mengalami kenaikan sebesar
Rp 300 hari ini. Kapitalisasi pasar yang terbentuk mewakili seluruh 20,159
miliar saham TLKM. Jadi level IHSG sudah pasti akan terangkat.
Dan
metode ini ikut memasukkan sahamsaham yang kurang aktif diperdagangkan, malah
terkadang tergolong saham tidur. Ini akan memangkas representasi pasar IHSG
secara riil, karena sahamsaham yang tidak ditransaksikan ikut dimasukkan dalam
penghitungannya.
Kendati demikian, BEI
menganggap metode yang dipakai ini sudah cukup mewakili pergerakan seluruh
saham harian di lantai bursa.
home
Home
Post a Comment